Selasa, 22 Mei 2012

Efek samping teknologi


Seiring dengan keamjuan jaman yang terus berkembang, persaingan diantara manusiapun kian kentara. Setiap orang  berlomba untuk membuat dirinya masing-masing ‘abadi’. Keabadian yang dimaksud adalah melimpahnya harta yang tidak akan habis meski sampai tujuh turunan. Mengapa manusia melakukan hal itu? Bukankah banyaknya harta tidak akan menjamin kehidupan yang kekal di dunia? Jawabanya tentu saja, mereka tidak beriman pada yang gaib dan tidak akan pernah dikembalikan pada kampung halamannya, kampung akhirat.
Penggambaran seperti ini jelas diakibatkan oleh cara pandang manusia yang tidak lagi meyakini akan adanya yang gaib. Kemajuan teknologi memaksa manusia untuk meyakina apa yang dilihatnya saja. Menjadi manusia-manusia ‘visual’ dalam kungkungan hedonism. Mereka jadi rabun tentang apakah adanya Surga atau Neraka. Sedang kematian yang mereka yakini adalah pemutus segala kebahagiaan di dunia. Oleh karena itu, mereka sangat’bersungguh-sungguh’ hingga lupa bahwa ia adalah manusia spiritual yang selalu membutuhkan Tuhan.
 
Kemajuan teknologi berbanding terbalik dengan menurunnya grafik spritualitas manusia. Orang sudah tidak betah berlama-lama di mesjid, gereja, vihara. Orang sudah tidak lagi memandang begitu berartinya Tuhan dalam kehidupannya. Satu diantaranya adalah dikarenakan Tuhan itu sesuatu yang tidak logis, tidak terlihat dan terindra. Oleh karenanya mereka berpegang pada kebenaran subjektif atas ilmu dan pemikirannya sendiri yang kemungkinan besarnya menyesatkan. Seperti halnya Karun yang lantang berkata bahwa semua kekayaannya itu atas dasar kepintarannya.
Dalam agama dan ajaran apapun akan memandang bahwa keimanan yang paling utama adalah keimanan terhadap Tuhan.  Dalam agama Islam diajarkan bahwa seorang Muslim yang ihsan itu adalah orang yang mampu menghadirkan Tuhan seolah-olah ada. Ia selalu melihatnya, memperhatikannya dan tidak ada secuil apapun yang luput dari pengetahuanNya. Bagi mereka sudah barang tentu hidupnya senantiasa terjaga. Gemerlap teknologi tidak akan pernah mengalihkan perhatiannya pada keberadaan Tuhan.
Bagaimanakah dengan kondisi manusia modern pada saat ini yang tengah merasakan hidup di jaman teknologi yang canggih? Dahulu mungkin orang-orang merasa perlu Tuhan. Ketika malam datang mereka mengharapkan sebuah pelita lalu merekapun berdoa kepada Tuhan supaya didatangkan bulan. Namun sekarang ketika lampu pijar sudah memberikan penerangan di rumah-rumahnya mungkin mereka tidak lagi berdoa. Semua yang dibutuhkan sudah tersedia di depan mata lalu apa yang diminta pada Tuhan?
Sebuah data meneybutkan bahwa gereja-gereja di Eropa sudah mulai ditinggalkan jemaatnya. Perubahan pola pikir yang sangat drastis yang diakibatkan oleh kemajuan teknologi. Peran Tuhan sudah tergantikan oleh teknologi, begitu mungkin yang ada di benak-benak mereka. Manusia yang buta terhadap yang gaib akan berubah menjadi manusia-manusia yang liar. Maka akan sering kita dapatkan berita tentang berbagai bentuk tindakkan kriminal. Pembunuhan, pemerkosaan, penjambretan, perampokan dan penjarahan. Dibalik euphoria jaman memasuki emporium teknologi ini terselip efek samping yang mengancam. Penuhanan atas kreasi manusia menghilangkan keyakinan pada keberadaan Tuhan Yang Maha Esa.
Teknologi semata-mata adalah sebagai bukti kehadiran Tuhan. Manusia mampu melakukan segala macam hal karena Tuhanlah yang telah menggariskan itu pada manusia. Memberikan potensi akal yang luar biasa, keingintahuan yang menggila serat hasrat untuk hidup selama-lamanya. Maka salah besar jika kita menganggap Tuhan telah ‘mati’ seperti yang dikatakan Niezchy dalam salah satu bukunya. Sehabat apapun teknologi tidak akan pernah bisa mengimbangi Kemahakuasaan Tuhan. Bukankah kita telah banyak diajarkan Tuhan tentang bagaimana Jepang ditenggelamkan? Bukankah Jepang salah satu Negara yang perkembangan teknologinya sangat maju? Ya peristiwa itu kembali  mengingatkan kita bahwa manusia hanyalah manusia bukan dewa apalagi saingan Tuhan.

1 komentar:

  1. Terkadang memang banyak sisi mata pisau tajam yang berbahaya dalam kehidupan. Tapi jangan pernah kita menggeneralisir hanya atas dasar satu premis yang belum pasti kebenarannya. Bukan berarti harus hidup tanpa teknologi dan bukan berarti pula orang yang moderen pasti seperti itu. Belajar dari pengalaman dan berlakulah sebagaimana yang diajarkan Alloh dan Rasulnya..

    BalasHapus