Seiring
dengan keamjuan jaman yang terus berkembang, persaingan diantara manusiapun
kian kentara. Setiap orang berlomba untuk membuat dirinya masing-masing
‘abadi’. Keabadian yang dimaksud adalah melimpahnya harta yang tidak akan habis
meski sampai tujuh turunan. Mengapa manusia melakukan hal itu? Bukankah
banyaknya harta tidak akan menjamin kehidupan yang kekal di dunia? Jawabanya
tentu saja, mereka tidak beriman pada yang gaib dan tidak akan pernah
dikembalikan pada kampung halamannya, kampung akhirat.
Penggambaran
seperti ini jelas diakibatkan oleh cara pandang manusia yang tidak lagi
meyakini akan adanya yang gaib. Kemajuan teknologi memaksa manusia untuk
meyakina apa yang dilihatnya saja. Menjadi manusia-manusia ‘visual’ dalam
kungkungan hedonism. Mereka jadi rabun tentang apakah adanya Surga atau Neraka.
Sedang kematian yang mereka yakini adalah pemutus segala kebahagiaan di dunia.
Oleh karena itu, mereka sangat’bersungguh-sungguh’ hingga lupa bahwa ia adalah
manusia spiritual yang selalu membutuhkan Tuhan.
Kemajuan
teknologi berbanding terbalik dengan menurunnya grafik spritualitas manusia.
Orang sudah tidak betah berlama-lama di mesjid, gereja, vihara. Orang sudah
tidak lagi memandang begitu berartinya Tuhan dalam kehidupannya. Satu
diantaranya adalah dikarenakan Tuhan itu sesuatu yang tidak logis, tidak
terlihat dan terindra. Oleh karenanya mereka berpegang pada kebenaran subjektif
atas ilmu dan pemikirannya sendiri yang kemungkinan besarnya menyesatkan.
Seperti halnya Karun yang lantang berkata bahwa semua kekayaannya itu atas
dasar kepintarannya.
Dalam agama
dan ajaran apapun akan memandang bahwa keimanan yang paling utama adalah
keimanan terhadap Tuhan. Dalam agama Islam diajarkan bahwa seorang Muslim
yang ihsan itu adalah orang yang mampu menghadirkan Tuhan seolah-olah ada. Ia
selalu melihatnya, memperhatikannya dan tidak ada secuil apapun yang luput dari
pengetahuanNya. Bagi mereka sudah barang tentu hidupnya senantiasa terjaga.
Gemerlap teknologi tidak akan pernah mengalihkan perhatiannya pada keberadaan
Tuhan.
Bagaimanakah
dengan kondisi manusia modern pada saat ini yang tengah merasakan hidup di
jaman teknologi yang canggih? Dahulu mungkin orang-orang merasa perlu Tuhan.
Ketika malam datang mereka mengharapkan sebuah pelita lalu merekapun berdoa
kepada Tuhan supaya didatangkan bulan. Namun sekarang ketika lampu pijar sudah
memberikan penerangan di rumah-rumahnya mungkin mereka tidak lagi berdoa. Semua
yang dibutuhkan sudah tersedia di depan mata lalu apa yang diminta pada Tuhan?
Sebuah data
meneybutkan bahwa gereja-gereja di Eropa sudah mulai ditinggalkan jemaatnya.
Perubahan pola pikir yang sangat drastis yang diakibatkan oleh kemajuan
teknologi. Peran Tuhan sudah tergantikan oleh teknologi, begitu mungkin yang
ada di benak-benak mereka. Manusia yang buta terhadap yang gaib akan berubah
menjadi manusia-manusia yang liar. Maka akan sering kita dapatkan berita
tentang berbagai bentuk tindakkan kriminal. Pembunuhan, pemerkosaan, penjambretan,
perampokan dan penjarahan. Dibalik euphoria jaman memasuki emporium teknologi
ini terselip efek samping yang mengancam. Penuhanan atas kreasi manusia
menghilangkan keyakinan pada keberadaan Tuhan Yang Maha Esa.
Teknologi
semata-mata adalah sebagai bukti kehadiran Tuhan. Manusia mampu melakukan
segala macam hal karena Tuhanlah yang telah menggariskan itu pada manusia.
Memberikan potensi akal yang luar biasa, keingintahuan yang menggila serat
hasrat untuk hidup selama-lamanya. Maka salah besar jika kita menganggap Tuhan
telah ‘mati’ seperti yang dikatakan Niezchy dalam salah satu bukunya. Sehabat
apapun teknologi tidak akan pernah bisa mengimbangi Kemahakuasaan Tuhan.
Bukankah kita telah banyak diajarkan Tuhan tentang bagaimana Jepang
ditenggelamkan? Bukankah Jepang salah satu Negara yang perkembangan
teknologinya sangat maju? Ya peristiwa itu kembali mengingatkan kita
bahwa manusia hanyalah manusia bukan dewa apalagi saingan Tuhan.
Terkadang memang banyak sisi mata pisau tajam yang berbahaya dalam kehidupan. Tapi jangan pernah kita menggeneralisir hanya atas dasar satu premis yang belum pasti kebenarannya. Bukan berarti harus hidup tanpa teknologi dan bukan berarti pula orang yang moderen pasti seperti itu. Belajar dari pengalaman dan berlakulah sebagaimana yang diajarkan Alloh dan Rasulnya..
BalasHapus